Kamis, 29 November 2012

Cerpen : Laguku


Ini sudah yang kedelapan Bela bercerita ke padaku soal cowok-cowok yang bertanya kepadanya tentang apa saja yang aku suka, apa saja yang tidak aku suka, bagaimana cowok idamanku, bagaimana kebiasaanku dan bagaimana cara yang tepat untuk menembakku. Dan yang kedelapan kali pula aku berkata “Jawab aja setahu lo asal bukan aib gue. Kalo soal nembak jawab aja sengaco lo asal jangan maen gitar.” Yah, begitulah.
Menurutku, aku tidak begitu cantik dan tidak begitu feminim. Entah apa yang ada di pikiran mereka tentang diriku, yang aku dengar hanyalah pujian-pujian cap kambing yang biasa terjual di mulut para cowok. Bodo amat ah, aku juga nggak minat pacaran.
Tas ungu yang selalu aku gunakan ketika sekolah tergeletak keras di bangku yang ingin cepat-cepat aku duduki, rasanya seperti menang dari lari maraton melawan juara bertahan gara-gara batre alarm abis. Kebiasaanku yang tak terlupa untuk menengok laci mejaku yang biasanya tak pernah kosong dari barang-barang aneh yang kebanyakan disarankan oleh Bela ke para cowok-cowok dan sisanya hanya surat-surat yang akan berakhir di tempat sampah. Setelah kejadian malang yang dialami oleh jariku yang tertusuk oleh duri dari beberapa tangkai mawar layu yang membuatku enggan untuk memasukan tanganku lagi kedalam jebakan tikus jumbo ini. Kali ini baunya sedikit berbeda walaupun aku pernah mengenalnya, aku langsung menoleh ke arah Bela dan bertanya dengan muka yang belum disetrika.
“Bel! Kali ini lo nyaranin apa ke cowok yang nanya ke elo?”
“Oh, Kelvin? Semalem sih gue suruh ngasih jasmine, udah ada? Gila tuh orang, dapet bunga dari mana malem-malem gitu.” Jawabnya yang tak pernah merasa bersalah.
“Anjiirr lo! Dikira gue kuntilanak apa dikasih sesajen gini! Nyaranin pake rumus juga kali non, romantis dikit kek!” omelku.
“Abisnya, lo kalo gue tanya jawabnya itu-itu mulu, ya gue mengaco ria donk. Nggak papa lah, refresing di pagi hari. Lagian tiap pagi alarm lo sekarat mulu, besok gue bawain air segayung deh buat nyegerin tuh muka.” Sahutnya dengan cengiran garing.
“Seneng di elo sengsara di gue! Yah, Bel. Namanya juga anak kost, ngapain sih harus bangun pagi kalo sekolahnya tinggal lompat dua kali sampe.” Obrolan kami terhenti oleh Miss Hellen yang sudah berdiri di pintu dengan tangan di pinggang, seketika semua murid langsung melihat sampah di sekeliling mereka untuk dibuang sesegera mungkin sebelum Miss Helen mengadakan ulangan dadakan cuma gara-gara kelas kotor. Aku langsung mengambil plastik yang selalu aku siapkan untuk membuang barang-barang aneh yang selalu ngontrak di laci mejaku.
Kelvin, kapten basket yang tiap hari motornya ganti terus. Cakep sih, tajir lagi! Sayangnya dia ngrokok sih, emangnya Bella nggak ngasih tahu apa kalo aku alergi rokok. Huh! Kapan sih Bella cerita ke gue kalo Irvan nanya ke dia tentang gue. Dia cowok yang duduk tepat di belakangku, orang pertama yang memberiku tissue ketika tanganku terkena duri mawar. Dia juga yang pertama kali membuatku tenang ketika melihat darah, hal yang aku takuti setelah kematian adikku yang jatuh dari tangga dengan bermandi darah di tubuhnya *yah mewek lagi deh.
Bella saja tidak tahu kalau aku menyukai Irvan, mungkin hal ini cukup privasi untuk aku sebarkan. Sebab, Irvan itu sama sekali bukan tipeku. Dia itu cuek, nggak sensitif pake banget, hidupnya terlalu santai, dan yang paling nyesek dia juga ngrokok. Ini pertama kalinya aku merasa berdamai terhadap rokok, tapi tidak bila rokok itu di tangan orang lain. Menyukainya merupakan suatu keganjalan tersendiri bagiku, tetapi aku tak pernah bisa menolaknya. Melihatinya di setiap kesempatan juga menjadi keganjalan tersendiri bagi hatiku, rasanya seperti ribuan kupu-kupu yang terbang berlalu lintas di hati *pLak! buku Miss Hellen melayang ke muka gara-gara nglamun. Seluruh kelas menertawakanku yang masih nyengir diplototin Miss Hellen. Di saat-saat seperti itu aku selalu menoleh ke belakang untuk melihatnya tertawa *walo pun ngetawain aku. Eh! Kenapa jari kirinya pake plaster semua, cuma jempol yang kelihatan kepalanya. Dia abis belajar masak atau emang lagi ngetren kali yak. Perhatianku ke dia tak berlangsung lama karena aku harus mendengarkan deretan kata yang keluar dari mulut Miss Hellen.
Besok tanggal sembilan! Nggak nyangka ya, aku cepet banget tuanya. Dan besok aku harus membawa plastik yang lebih besar lagi untuk menampung para kado yang mengungsi di laciku, mungkin akan diperluas ke lacinya Bella juga *saking banyaknya nih. Benar saja, baru pagi hari laciku sudah kenyang, padahal yang punya aja belom sarapan tuh. Loh! Siapa yang bawa gitar ke sekolah. Gitarnya cantik banget, warnanya merah marun, bentuknya juga nggak begitu besar *unyu deh pokoknya.
Yeah! Hari ini Pak Ahmad nggak ada, otomatis dua jam terakhir kelasku bakalan berubah jadi pasar, sebanyak apa pun tugas yang di kasih tetep aja rame. Tapi hari ini suasananya beda banget, wah! Waspada nih, nanti tiba-tiba ada telor busuk melayang ke kepala di susul tembakan tepung dan hujan air got *Huekk. Tauk ah! Pura-pura aja heboh ngerjain tugas tapi kaki siap-siap kabur.
Tanganku terhenti menulis ketika mendengar suara gitar yang dimainkan oleh seseorang yang tangannya penuh plaster. Iya! Siapa lagi kalo bukan Irvan. Buku pun terlupakan di saat semua perhatian tertuju pada lagu yang dimainkan Irvan. Itu lagunya Ungu yang judulnya Laguku, aku kenal banget intronya. Aku pun ikut menoleh ke belakang melihat Irvan yang duduk di bangku yang sudah ditumpuk di atas meja, dan dia pun mulai bernyanyi dengan diiringi suara dari teman-temanku lainnya yang memperburuk melodi. Di saat bernyanyi, matanya hanya tertuju di dua tempat yaitu di tangan kirinya dan aku, *Eh!
Tiba-tiba dia turun dari singgahsana dan berjalan dengan masih memainkan gitarnya menuju ke seseorang yang masih bengong memperhatikannya. Aku? *siapa lagi. Tepat di depanku, dia menyanyikan Reff terakhir dari lagu tersebut. Aku belum terbangun dari kebengonganku, hanya bisa melihat sang pangeran bermain gitar dan ikut bernyanyi bersamanya di dalam hati.
Mungkin hanya lewat lagu ini
Akan ku nyatakan rasa
Cintaku padamu, rinduku padamu tak bertepi
Mungkin hanya sebuah lagu ini
Yang akan slalu ku nyanyikan
Sebagai tanda betapa aku inginkan kamu
Jika aku diibaratkan sebongkah es, mungkin aku sudah cair secair-cairnya. Apalagi ditambah kata-kata yang diucapkan Irvan setelah lagu itu selesai dinyanyikannya.
“Gita, gue nggak tau cara nembak lo ini bener ato enggak , yang pasti gue udah lama suka sama lo. Lo nggak usah repot mikirin gimana cara nolak gue, gue cuma pengen nyatain perasaan gue, lagian sebentar lagi kita juga bakalan pisah. Oh iya, gue denger dulu gitar lo dibuang sama nyokap lo kan? Nih buat lo hasil dari gue berhenti ngrokok, anggep aja kado dari gue.” Irvan tersenyum bersamaan dengan bel pulang yang berdering, dia pun pergi mengambil tasnya lalu pulang begitu saja tanpa membiarkan aku  menjawab sepatah kata pun.
Aku masih tak mengerti arti dari kata ‘berpisah’ yang ia ucapkan, apa mungkin karena aku nanti akan mengambil jurusan ke IPS dan dia IPA jadi kita tidak sekelas lagi. Tapi menurutku itu belum pantas dikatakan ‘berpisah’, bukankah kita masih bisa bertemu. Entahlah, masih ada seribu kemungkinan lain ketika sebuah fakta disebut berpisah. Yang aku mengerti adalah arti dari plaster yang akhir-akhir ini menempel di jarinya, arti dari dia yang jarang keluar jajan bareng temen-temennya lagi, balasan mata ketika ku pandang, dan masih banyak lagi hal yang terungkap dari semua sikap anehnya. Asal dia tahu, andaikan Bella bercerita tentang kamu yang bertanya kepadanya bagaimana cara yang tepat menyatakankan cinta kepadaku, jawabannya pasti akan berbeda “Suruh dia pake gitar, Bel!”.
Dulu aku maniak banget sama yang namanya gitar, sampe tanganku kapalan terus berdarah gara-gara saking ngebetnya pengen bisa, sampe kebawa mimpi di tembak seorang pangeran yang nyanyiin lagu pake gitar. Terkadang nggak semua mimpi selalu akur dengan kenyataan, bagaikan ibu tiri dan anak perempuannya, mereka jarang berjalan seirama.
Hampir satu minggu setelah kejadian itu bangku yang berada di belakang ku kosong tak berpenghuni, teman-temanku yang lain juga tidak pernah dengar kabarnya ketika kutanyai. Andai aku punya keberanian untuk mengiriminya sms  atau sedikit nekat dengan menelfonnya, tapi  semua sudah hilang sebelum aku mencobanya. Penjelasan dari Pak Ahmad tentang Gelombang Elektromagnetik terhenti ketika pak Rusman salah seorang karyawan TU mengetok pintu, ia memberikan selembar kertas kepada pak Ahmad disertai beberapa penjelasan yang membuat seisi kelas tersentak mendengarkannya. Terlebih lagi aku, hampir tak ada rasa apa pun yang menghampiri. Seluruh kesadaran, perasaan dan pikiran seakan hilang ketika mengetahui bahwa Irvan pindah ke kampung halamannya di Semarang.
  Malam ini seakan menemaniku bersedih, tak satu pun bintang yang datang menghiburku, hanyalah angin dingin yang menyerbu hati menambah kesepian di jiwa. Perhatianku teralihkan pada sebuah benda yang sudah satu minggu tidak aku perdulikan. Rasanya aku ingin menangis melihatnya, namun hatiku berkata kuat ingin menyentuhnya, bermain bersama malaikat tak bernyawa yang mungkin diutus untuk menggantikan kehadirannya yang baru saja pergi.
Akhirnya tubuhku pun terangkat berdiri dan mengambilnya, ku bawa dia ke kursi santai yang berada di beranda kamarku, ku coba ingat kembali beberapa kunci yang dulu pernah ku hafal. ‘G F# Em Bm C Am D’, ya! Itu adalah kunci dari intro lagu Ungu yang berjudul Laguku, langsung terbesit di ingatan ketika Irvan menyanyikannya untukku, persis sama yang ada di mimpiku dulu. Irvan, andaikan ini terjadi lebih cepat, mungkin aku bisa menikmati beberapa detik menjadi milikmu.
Mungkinkah kau tahu
Rasa cinta yang kini membara
Yang masih tersimpan
Dalam lubuk jiwa. . . .

Rabu, 28 November 2012

Cerita Pendek

Sabtu, 29 November 2012 - Cerita pendek atau sering disingkat sebagai cerpen adalah suatu bentuk prosa naratif fiktif. Cerita pendek cenderung padat dan langsung pada tujuannya dibandingkan karya-karya fiksi yang lebih panjang, seperti novella (dalam pengertian modern) dan novel. Karena singkatnya, cerita-cerita pendek yang sukses mengandalkan teknik-teknik sastra seperti tokoh, plot, tema, bahasa dan insight secara lebih luas dibandingkan dengan fiksi yang lebih panjang. Ceritanya bisa dalam berbagai jenis.
Cerita pendek berasal dari anekdot, sebuah situasi yang digambarkan singkat yang dengan cepat tiba pada tujuannya, dengan paralel pada tradisi penceritaan lisan. Dengan munculnya novel yang realistis, cerita pendek berkembang sebagai sebuah miniatur, dengan contoh-contoh dalam cerita-cerita karya E.T.A. Hoffmann dan Anton Chekhov.
Sejarah
Asal-usul
Cerita pendek bermula pada tradisi penceritaan lisan yang menghasilkan kisah-kisah terkenal seperti Iliad dan Odyssey karya Homer. Kisah-kisah tersebut disampaikan dalam bentuk puisi yang berirama, dengan irama yang berfungsi sebagai alat untuk menolong orang untuk mengingat ceritanya. Bagian-bagian singkat dari kisah-kisah ini dipusatkan pada naratif-naratif individu yang dapat disampaikan pada satu kesempatan pendek. Keseluruhan kisahnya baru terlihat apabila keseluruhan bagian cerita tersebut telah disampaikan.
Fabel, yang umumnya berupa cerita rakyat dengan pesan-pesan moral di dalamnya, konon dianggap oleh sejarahwan Yunani Herodotus sebagai hasil temuan seorang budak Yunani yang bernama Aesop pada abad ke-6 SM (meskipun ada kisah-kisah lain yang berasal dari bangsa-bangsa lain yang dianggap berasal dari Aesop). Fabel-fabel kuno ini kini dikenal sebagai Fabel Aesop. Akan tetapi ada pula yang memberikan definisi lain terkait istilah Fabel. Fabel, dalam khazanah Sastra Indonesia seringkali, diartikan sebagai cerita tentang binatang sebagai pemeran(tokoh) utama. Cerita fabel yang populer misalnya Kisah Si Kancil, dan sebagainya.
Selanjutnya, jenis cerita berkembang meliputi sage, mite, dan legenda. Sage merupakan cerita kepahlawanan. Misalnya Joko Dolog. Mite atau mitos lebih mengarah pada cerita yang terkait dengan kepercayaan masyarakat setempat tentang sesuatu. Contohnya Nyi Roro Kidul. Sedangkan legenda mengandung pengertian sebagai sebuah cerita mengenai asal usul terjadinya suatu tempat. Contoh Banyuwangi.
Bentuk kuno lainnya dari cerita pendek, yakni anekdot, populer pada masa Kekaisaran Romawi. Anekdot berfungsi seperti perumpamaan, sebuah cerita realistis yang singkat, yang mencakup satu pesan atau tujuan. Banyak dari anekdot Romawi yang bertahan belakangan dikumpulkan dalam Gesta Romanorum pada abad ke-13 atau 14. Anekdot tetap populer di Eropa hingga abad ke-18, ketika surat-surat anekdot berisi fiksi karya Sir Roger de Coverley diterbitkan.
Di Eropa, tradisi bercerita lisan mulai berkembang menjadi cerita-cerita tertulis pada awal abad ke-14, terutama sekali dengan terbitnya karya Geoffrey Chaucer Canterbury Tales dan karya Giovanni Boccaccio Decameron. Kedua buku ini disusun dari cerita-cerita pendek yang terpisah (yang merentang dari anekdot lucu ke fiksi sastra yang dikarang dengan baik), yang ditempatkan di dalam cerita naratif yang lebih besar (sebuah cerita kerangka), meskipun perangkat cerita kerangka tidak diadopsi oleh semua penulis. Pada akhir abad ke-16, sebagian dari cerita-cerita pendek yang paling populer di Eropa adalah "novella" kelam yang tragis karya Matteo Bandello (khususnya dalam terjemahan Perancisnya). Pada masa Renaisan, istilah novella digunakan untuk merujuk pada cerita-cerita pendek.
Pada pertengahan abad ke-17 di Perancis terjadi perkembangan novel pendek yang diperhalus, "nouvelle", oleh pengarang-pengarang seperti Madame de Lafayette. Pada 1690-an, dongeng-dongeng tradisional mulai diterbitkan (salah satu dari kumpulan yang paling terkenal adalah karya Charles Perrault). Munculnya terjemahan modern pertama Seribu Satu Malam karya Antoine Galland (dari 1704; terjemahan lainnya muncul pada 1710–12) menimbulkan pengaruh yang hebat terhadap cerita-cerita pendek Eropa karya Voltaire, Diderot dan lain-lainnya pada abad ke-18.
Cerita-cerita pendek modern
Cerita-cerita pendek modern muncul sebagai genrenya sendiri pada awal abad ke-19. Contoh-contoh awal dari kumpulan cerita pendek termasuk Dongeng-dongeng Grimm Bersaudara (1824–1826), Evenings on a Farm Near Dikanka (1831-1832) karya Nikolai Gogol, Tales of the Grotesque and Arabesque (1836), karya Edgar Allan Poe dan Twice Told Tales (1842) karya Nathaniel Hawthorne. Pada akhir abad ke-19, pertumbuhan majalah dan jurnal melahirkan permintaan pasar yang kuat akan fiksi pendek antara 3.000 hingga 15.000 kata panjangnya. Di antara cerita-cerita pendek terkenal yang muncul pada periode ini adalah "Kamar No. 6" karya Anton Chekhov.
Pada paruhan pertama abad ke-20, sejumlah majalah terkemuka, seperti The Atlantic Monthly, Scribner's, dan The Saturday Evening Post, semuanya menerbitkan cerita pendek dalam setiap terbitannya. Permintaan akan cerita-cerita pendek yang bermutu begitu besar, dan bayaran untuk cerita-cerita itu begitu tinggi, sehingga F. Scott Fitzgerald berulang-ulang menulis cerita pendek untuk melunasi berbagai utangnya.
Permintaan akan cerita-cerita pendek oleh majalah mencapai puncaknya pada pertengahan abad ke-20, ketika pada 1952 majalah Life menerbitkan long cerita pendek Ernest Hemingway yang panjang (atau novella) Lelaki Tua dan Laut. Terbitan yang memuat cerita ini laku 5.300.000 eksemplar hanya dalam dua hari.
Sejak itu, jumlah majalah komersial yang menerbitkan cerita-cerita pendek telah berkurang, meskipun beberapa majalah terkenal seperti The New Yorker terus memuatnya. Majalah sastra juga memberikan tempat kepada cerita-cerita pendek. Selain itu, cerita-cerita pendek belakangan ini telah menemukan napas baru lewat penerbitan online. Cerita pendek dapat ditemukan dalam majalah online, dalam kumpulan-kumpulan yang diorganisir menurut pengarangnya ataupun temanya, dan dalam blog.
Unsur dan ciri khas
Cerita pendek cenderung kurang kompleks dibandingkan dengan novel. Cerita pendek biasanya memusatkan perhatian pada satu kejadian, mempunyai satu plot, setting yang tunggal, jumlah tokoh yang terbatas, mencakup jangka waktu yang singkat.
Dalam bentuk-bentuk fiksi yang lebih panjang, ceritanya cenderung memuat unsur-unsur inti tertentu dari struktur dramatis: eksposisi (pengantar setting, situasi dan tokoh utamanya); komplikasi (peristiwa di dalam cerita yang memperkenalkan konflik); aksi yang meningkat, krisis (saat yang menentukan bagi si tokoh utama dan komitmen mereka terhadap suatu langkah); klimaks (titik minat tertinggi dalam pengertian konflik dan titik cerita yang mengandung aksi terbanyak atau terpenting); penyelesaian (bagian cerita di mana konflik dipecahkan); dan moralnya.
Karena pendek, cerita-cerita pendek dapat memuat pola ini atau mungkin pula tidak. Sebagai contoh, cerita-cerita pendek modern hanya sesekali mengandung eksposisi. Yang lebih umum adalah awal yang mendadak, dengan cerita yang dimulai di tengah aksi. Seperti dalam cerita-cerita yang lebih panjang, plot dari cerita pendek juga mengandung klimaks, atau titik balik. Namun demikian, akhir dari banyak cerita pendek biasanya mendadak dan terbuka dan dapat mengandung (atau dapat pula tidak) pesan moral atau pelajaran praktis. Seperti banyak bentuk seni manapun, ciri khas dari sebuah cerita pendek berbeda-beda menurut pengarangnya. Cerpen mempunyai 2 unsur yaitu:
Unsur Intrinsik
Unsur intrinsik adalah unsur yang membangun karya itu sendiri. Unsur–unsur intrinsik cerpen mencakup:
  • Tema adalah ide pokok sebuah cerita, yang diyakini dan dijadikan sumber cerita.
  • Latar(setting) adalah tempat, waktu , suasana yang terdapat dalam cerita. Sebuah cerita harus jelas dimana berlangsungnya, kapan terjadi dan suasana serta keadaan ketika cerita berlangsung.
  • Alur (plot) adalah susunan peristiwa atau kejadian yang membentuk sebuah cerita.
Alur dibagi menjadi 3 yaitu:
  1. Alur maju adalah rangkaian peristiwa yang urutannya sesuai dengan urutan waktu kejadian atau cerita yang bergerak ke depan terus.
  2. Alur mundur adalah rangkaian peristiwa yang susunannya tidak sesuai dengan urutan waktu kejadian atau cerita yang bergerak mundur (flashback).
  3. Alur campuran adalah campuran antara alur maju dan alur mundur.
Alur meliputi beberapa tahap:
  1. Pengantar: bagian cerita berupa lukisan , waktu, tempat atau kejadian yang merupakan awal cerita.
  2. Penampilan masalah: bagian yang menceritakan maslah yang dihadapi pelaku cerita.
  3. Puncak ketegangan / klimaks : masalah dalam cerita sudah sangat gawat, konflik telah memuncak.
  4. Ketegangan menurun / antiklimaks : masalah telah berangsur–angsur dapat diatasi dan kekhawatiran mulai hilang.
  5. Penyelesaian / resolusi : masalah telah dapat diatasi atau diselesaikan.
  • Perwatakan
Menggambarkan watak atau karakter seseorang tokoh yang dapat dilihat dari tiga segi yaitu melalui:
  1. Dialog tokoh
  2. Penjelasan tokoh
  3. Penggambaran fisik tokoh
  • Nilai (amanat) adalah pesan atau nasihat yang ingin disampaikan pengarang melalui cerita.
Unsur Ekstrinsik
Unsur ekstrinsik adalah unsur-unsur yang berada di luar karya sastra, tetapi secara tidak langsung mempengaruhi bangunan atau sistem organisme karya sastra. Unsur ekstrinsik meliputi:
  • Nilai-nilai dalam cerita (agama, budaya, politik, ekonomi)
  • Latar belakang kehidupan pengarang
  • Situasi sosial ketika cerita itu diciptakan
Ukuran
Menetapkan apa yang memisahkan cerita pendek dari format fiksi lainnya yang lebih panjang adalah sesuatu yang problematik. Sebuah definisi klasik dari cerita pendek ialah bahwa ia harus dapat dibaca dalam waktu sekali duduk (hal ini terutama sekali diajukan dalam esai Edgar Allan Poe "The Philosophy of Composition" pada 1846). Definisi-definisi lainnya menyebutkan batas panjang fiksi dari jumlah kata-katanya, yaitu 7.500 kata. Dalam penggunaan kontemporer, istilah cerita pendek umumnya merujuk kepada karya fiksi yang panjangnya tidak lebih dari 20.000 kata dan tidak kurang dari 1.000 kata.
Cerita yang pendeknya kurang dari 1.000 kata tergolong pada genre fiksi kilat (flash fiction). Fiksi yang melampuai batas maksimum parameter cerita pendek digolongkan ke dalam novelette, novella, atau novel.
Genre
Cerita pendek pada umumnya adalah suatu bentuk karangan fiksi, dan yang paling banyak diterbitkan adalah fiksi seperti fiksi ilmiah, fiksi horor, fiksi detektif, dan lain-lain. Cerita pendek kini juga mencakup bentuk nonfiksi seperti catatan perjalanan, prosa lirik dan varian-varian pasca modern serta non-fiksi seperti fikto-kritis atau jurnalisme baru.
Cerita pendek terkenal


Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Cerita_pendek

KOMIK

SabtuKomik adalah suatu bentuk seni yang menggunakan gambar-gambar tidak bergerak yang disusun sedemikian rupa sehingga membentuk jalinan cerita. Biasanya, komik dicetak di atas kertas dan dilengkapi dengan teks. Komik dapat diterbitkan dalam berbagai bentuk, mulai dari strip dalam koran, dimuat dalam majalah, hingga berbentuk buku tersendiri.

Sabtu, 29 November 2012 - Pada tahun 1996, Will Eisner menerbitkan buku Graphic Storytelling, di mana ia mendefinisikan komik sebagai "tatanan gambar dan balon kata yang berurutan, dalam sebuah buku komik." Sebelumnya, di tahun 1986, dalam buku Comics and Sequential Art, Eisner mendefinisikan teknis dan struktur komik sebagai sequential art, "susunan gambar dan kata-kata untuk menceritakan sesuatu atau mendramatisasi suatu ide". Dalam buku Understanding Comics (1993) Scott McCloud mendefinisikan seni sekuensial dan komik sebagai
juxtaposed pictorial and other images in deliberate sequence, intended to convey information and/or to produce an aesthetic response in the viewer.
Para ahli masih belum sependapat mengenai definisi komik. Sebagian diantaranya berpendapat bahwa bentuk cetaknya perlu ditekankan. Yang lain lebih mementingkan kesinambungan gambar dan teks. Sebagian lain lebih menekankan sifat kesinambungannya (sequential). Definisi komik sendiri sangat supel karena itu berkembanglah berbagai istilah baru seperti:
Untuk lingkup Nusantara, seorang penyair dari semenanjung Melayu (sekarang Malaysia) Harun Amniurashid (1952) pernah menyebut 'cerita bergambar' sebagai rujukan istilah cartoons dalam bahasa Inggris. Di Indonesia terdapat sebutan tersendiri untuk komik seperti diungkapkan oleh pengamat budaya Arswendo Atmowiloto (1986) yaitu cerita gambar atau disingkat menjadi cergam yang dicetuskan oleh seorang komikus Medan bernama Zam Nuldyn sekitar tahun 1970. Sementara itu Seno Gumira Ajidarma (2002), jurnalis dan pengamat komik, mengemukakan bahwa komikus Teguh Santosa dalam komik Mat Romeo (1971) pernah mengiklankan karya mereka dengan kata-kata "disadjikan setjara filmis dan kolosal" yang sangat relevan dengan novel bergambar.

[sunting] Istilah cerita bergambar

Akronim cerita (ber)gambar, menurut Marcell Boneff mengikuti istilah cerpen (cerita pendek) yang sudah terlebih dahulu digunakan, dan konotasinya menjadi lebih bagus, meski terlepas dari masalah tepat tidaknya dari segi kebahasaan atau etimologis katanya.
Tetapi menilik kembali pada kelahiran komik, maka adanya teks dan gambar secara bersamaan dinilai oleh Francis Laccasin (1971) sebagai sarana pengungkapan yang benar-benar orisinal. Kehadiran teks bukan lagi suatu keharusan karena ada unsur motion yang bisa dipertimbangkan sebagai jati diri komik lainnya.
Karena itu di dalam istilah komik klasik indonesia, cerita bergambar, tak lagi harus bergantung kepada cerita tertulis. Hal ini disebut Eisner sebagai graphic narration (terutama di dalam film dan komik).

Posisi komik di dalam seni rupa

Komik menurut Laccasin (1971) dan koleganya dinobatkan sebagai seni ke-sembilan. Walaupun sesungguhnya ini hanya sebuah simbolisasi penerimaan komik ke dalam ruang wacana senirupa. Bukanlah hal yang dianggap penting siapa atau apa saja seni yang kesatu sampai kedelapan.
Menurut sejarahnya sekitar tahun 1920-an, Ricciotto Canudo pendiri Club DES Amis du Septième Art, salah satu klub sinema Paris yang awal, seorang teoritikus film dan penyair dari Italia inilah yang mengutarakan urutan 7 kesenian di salah satu penerbitan klub tersebut tahun 1923-an. Kemudian pada tahun 1964 Claude Beylie menambahkan televisi sebagai yang kedelapan, dan komik berada tepat dibawahnya, seni kesembilan.
Thierry Groensteen, teoritikus dan pengamat komik Perancis yang menerbitkan buku kajian komiknya pada tahun 1999 berjudul "Système de la bande dessinée (Formes sémiotiques)" yang akan terbit tahun 2007 menjadi "The System of Comics". Ia berbicara definisi seni kesembilan dalam pengantar edisi pertama majalah "9e Art" di Perancis. Menurutnya, yang pertama kali memperkenalkan istilah itu adalah Claude Beylie. Dia menulis judul artikel, "La bande dessinee est-elle un art?", dan seni kesembilan itu disebut pada seri kedua dari lima artikel di majalah "Lettres et Medecins", yang terbit sepanjang Januari sampai September 1964.
Baru kemudian pada tahun 1971, F. Laccasin mencantumkan komik sebagai seni kesembilan di majalah "Pour un neuvieme art", sebagaimana yang dikutip oleh Marcel Boneff pada 1972 di dalam Komik Indonesia .

Sumber informasi http://id.wikipedia.org/wiki/Komik