Ini sudah yang kedelapan Bela bercerita ke padaku
soal cowok-cowok yang bertanya kepadanya tentang apa saja yang aku suka, apa
saja yang tidak aku suka, bagaimana cowok idamanku, bagaimana kebiasaanku dan
bagaimana cara yang tepat untuk menembakku. Dan yang kedelapan kali pula aku
berkata “Jawab aja setahu lo asal bukan aib gue. Kalo soal nembak jawab aja
sengaco lo asal jangan maen gitar.” Yah, begitulah.
Menurutku, aku tidak begitu cantik dan tidak begitu
feminim. Entah apa yang ada di pikiran mereka tentang diriku, yang aku dengar
hanyalah pujian-pujian cap kambing yang biasa terjual di mulut para cowok. Bodo
amat ah, aku juga nggak minat pacaran.
Tas ungu yang selalu aku gunakan ketika sekolah
tergeletak keras di bangku yang ingin cepat-cepat aku duduki, rasanya seperti
menang dari lari maraton melawan juara bertahan gara-gara batre alarm abis.
Kebiasaanku yang tak terlupa untuk menengok laci mejaku yang biasanya tak
pernah kosong dari barang-barang aneh yang kebanyakan disarankan oleh Bela ke
para cowok-cowok dan sisanya hanya surat-surat yang akan berakhir di tempat
sampah. Setelah kejadian malang yang dialami oleh jariku yang tertusuk oleh
duri dari beberapa tangkai mawar layu yang membuatku enggan untuk memasukan
tanganku lagi kedalam jebakan tikus jumbo ini. Kali ini baunya sedikit berbeda
walaupun aku pernah mengenalnya, aku langsung menoleh ke arah Bela dan bertanya
dengan muka yang belum disetrika.
“Bel! Kali ini lo nyaranin apa ke cowok yang nanya
ke elo?”
“Oh, Kelvin? Semalem sih gue suruh ngasih jasmine,
udah ada? Gila tuh orang, dapet bunga dari mana malem-malem gitu.” Jawabnya
yang tak pernah merasa bersalah.
“Anjiirr lo! Dikira gue kuntilanak apa dikasih
sesajen gini! Nyaranin pake rumus juga kali non, romantis dikit kek!” omelku.
“Abisnya, lo kalo gue tanya jawabnya itu-itu mulu,
ya gue mengaco ria donk. Nggak papa lah, refresing di pagi hari. Lagian tiap pagi
alarm lo sekarat mulu, besok gue bawain air segayung deh buat nyegerin tuh muka.”
Sahutnya dengan cengiran garing.
“Seneng di elo sengsara di gue! Yah, Bel. Namanya
juga anak kost, ngapain sih harus bangun pagi kalo sekolahnya tinggal lompat
dua kali sampe.” Obrolan kami terhenti oleh Miss Hellen yang sudah berdiri di
pintu dengan tangan di pinggang, seketika semua murid langsung melihat sampah
di sekeliling mereka untuk dibuang sesegera mungkin sebelum Miss Helen
mengadakan ulangan dadakan cuma gara-gara kelas kotor. Aku langsung mengambil
plastik yang selalu aku siapkan untuk membuang barang-barang aneh yang selalu
ngontrak di laci mejaku.
Kelvin, kapten basket yang tiap hari motornya ganti
terus. Cakep sih, tajir lagi! Sayangnya dia ngrokok sih, emangnya Bella nggak
ngasih tahu apa kalo aku alergi rokok. Huh! Kapan sih Bella cerita ke gue kalo
Irvan nanya ke dia tentang gue. Dia cowok yang duduk tepat di belakangku, orang
pertama yang memberiku tissue ketika tanganku terkena duri mawar. Dia juga yang
pertama kali membuatku tenang ketika melihat darah, hal yang aku takuti setelah
kematian adikku yang jatuh dari tangga dengan bermandi darah di tubuhnya *yah
mewek lagi deh.
Bella saja tidak tahu kalau aku menyukai Irvan,
mungkin hal ini cukup privasi untuk aku sebarkan. Sebab, Irvan itu sama sekali
bukan tipeku. Dia itu cuek, nggak sensitif pake banget, hidupnya terlalu santai,
dan yang paling nyesek dia juga ngrokok. Ini pertama kalinya aku merasa
berdamai terhadap rokok, tapi tidak bila rokok itu di tangan orang lain. Menyukainya
merupakan suatu keganjalan tersendiri bagiku, tetapi aku tak pernah bisa
menolaknya. Melihatinya di setiap kesempatan juga menjadi keganjalan tersendiri
bagi hatiku, rasanya seperti ribuan kupu-kupu yang terbang berlalu lintas di
hati *pLak! buku Miss Hellen melayang ke muka gara-gara nglamun. Seluruh kelas
menertawakanku yang masih nyengir diplototin Miss Hellen. Di saat-saat seperti
itu aku selalu menoleh ke belakang untuk melihatnya tertawa *walo pun ngetawain
aku. Eh! Kenapa jari kirinya pake plaster semua, cuma jempol yang kelihatan
kepalanya. Dia abis belajar masak atau emang lagi ngetren kali yak. Perhatianku
ke dia tak berlangsung lama karena aku harus mendengarkan deretan kata yang
keluar dari mulut Miss Hellen.
Besok tanggal sembilan! Nggak nyangka ya, aku cepet
banget tuanya. Dan besok aku harus membawa plastik yang lebih besar lagi untuk
menampung para kado yang mengungsi di laciku, mungkin akan diperluas ke lacinya
Bella juga *saking banyaknya nih. Benar saja, baru pagi hari laciku sudah
kenyang, padahal yang punya aja belom sarapan tuh. Loh! Siapa yang bawa gitar
ke sekolah. Gitarnya cantik banget, warnanya merah marun, bentuknya juga nggak
begitu besar *unyu deh pokoknya.
Yeah! Hari ini Pak Ahmad nggak ada, otomatis dua
jam terakhir kelasku bakalan berubah jadi pasar, sebanyak apa pun tugas yang di
kasih tetep aja rame. Tapi hari ini suasananya beda banget, wah! Waspada nih,
nanti tiba-tiba ada telor busuk melayang ke kepala di susul tembakan tepung dan
hujan air got *Huekk. Tauk ah! Pura-pura aja heboh ngerjain tugas tapi kaki
siap-siap kabur.
Tanganku terhenti menulis ketika mendengar suara
gitar yang dimainkan oleh seseorang yang tangannya penuh plaster. Iya! Siapa
lagi kalo bukan Irvan. Buku pun terlupakan di saat semua perhatian tertuju pada
lagu yang dimainkan Irvan. Itu lagunya Ungu yang judulnya Laguku, aku kenal
banget intronya. Aku pun ikut menoleh ke belakang melihat Irvan yang duduk di
bangku yang sudah ditumpuk di atas meja, dan dia pun mulai bernyanyi dengan diiringi
suara dari teman-temanku lainnya yang memperburuk melodi. Di saat bernyanyi,
matanya hanya tertuju di dua tempat yaitu di tangan kirinya dan aku, *Eh!
Tiba-tiba dia turun dari singgahsana dan berjalan
dengan masih memainkan gitarnya menuju ke seseorang yang masih bengong
memperhatikannya. Aku? *siapa lagi. Tepat di depanku, dia menyanyikan Reff
terakhir dari lagu tersebut. Aku belum terbangun dari kebengonganku, hanya bisa
melihat sang pangeran bermain gitar dan ikut bernyanyi bersamanya di dalam
hati.
Mungkin hanya lewat lagu ini
Akan ku nyatakan rasa
Cintaku padamu, rinduku padamu tak bertepi
Mungkin hanya sebuah lagu ini
Yang akan slalu ku nyanyikan
Sebagai tanda betapa aku inginkan kamu
Jika aku diibaratkan sebongkah es, mungkin aku
sudah cair secair-cairnya. Apalagi ditambah kata-kata yang diucapkan Irvan
setelah lagu itu selesai dinyanyikannya.
“Gita, gue nggak tau cara nembak lo ini bener ato
enggak , yang pasti gue udah lama suka sama lo. Lo nggak usah repot mikirin
gimana cara nolak gue, gue cuma pengen nyatain perasaan gue, lagian sebentar
lagi kita juga bakalan pisah. Oh iya, gue denger dulu gitar lo dibuang sama
nyokap lo kan? Nih buat lo hasil dari gue berhenti ngrokok, anggep aja kado
dari gue.” Irvan tersenyum bersamaan dengan bel pulang yang berdering, dia pun
pergi mengambil tasnya lalu pulang begitu saja tanpa membiarkan aku menjawab sepatah kata pun.
Aku masih tak mengerti arti dari kata ‘berpisah’
yang ia ucapkan, apa mungkin karena aku nanti akan mengambil jurusan ke IPS dan
dia IPA jadi kita tidak sekelas lagi. Tapi menurutku itu belum pantas dikatakan
‘berpisah’, bukankah kita masih bisa bertemu. Entahlah, masih ada seribu
kemungkinan lain ketika sebuah fakta disebut berpisah. Yang aku mengerti adalah
arti dari plaster yang akhir-akhir ini menempel di jarinya, arti dari dia yang jarang
keluar jajan bareng temen-temennya lagi, balasan mata ketika ku pandang, dan masih
banyak lagi hal yang terungkap dari semua sikap anehnya. Asal dia tahu,
andaikan Bella bercerita tentang kamu yang bertanya kepadanya bagaimana cara
yang tepat menyatakankan cinta kepadaku, jawabannya pasti akan berbeda “Suruh
dia pake gitar, Bel!”.
Dulu aku maniak banget sama yang namanya gitar,
sampe tanganku kapalan terus berdarah gara-gara saking ngebetnya pengen bisa,
sampe kebawa mimpi di tembak seorang pangeran yang nyanyiin lagu pake gitar.
Terkadang nggak semua mimpi selalu akur dengan kenyataan, bagaikan ibu tiri dan
anak perempuannya, mereka jarang berjalan seirama.
Hampir satu minggu setelah kejadian itu bangku yang
berada di belakang ku kosong tak berpenghuni, teman-temanku yang lain juga
tidak pernah dengar kabarnya ketika kutanyai. Andai aku punya keberanian untuk
mengiriminya sms atau sedikit nekat
dengan menelfonnya, tapi semua sudah
hilang sebelum aku mencobanya. Penjelasan dari Pak Ahmad tentang Gelombang
Elektromagnetik terhenti ketika pak Rusman salah seorang karyawan TU mengetok pintu,
ia memberikan selembar kertas kepada pak Ahmad disertai beberapa penjelasan
yang membuat seisi kelas tersentak mendengarkannya. Terlebih lagi aku, hampir
tak ada rasa apa pun yang menghampiri. Seluruh kesadaran, perasaan dan pikiran
seakan hilang ketika mengetahui bahwa Irvan pindah ke kampung halamannya di
Semarang.
Malam ini seakan menemaniku bersedih, tak satu
pun bintang yang datang menghiburku, hanyalah angin dingin yang menyerbu hati
menambah kesepian di jiwa. Perhatianku teralihkan pada sebuah benda yang sudah
satu minggu tidak aku perdulikan. Rasanya aku ingin menangis melihatnya, namun
hatiku berkata kuat ingin menyentuhnya, bermain bersama malaikat tak bernyawa
yang mungkin diutus untuk menggantikan kehadirannya yang baru saja pergi.
Akhirnya tubuhku pun terangkat berdiri dan
mengambilnya, ku bawa dia ke kursi santai yang berada di beranda kamarku, ku
coba ingat kembali beberapa kunci yang dulu pernah ku hafal. ‘G F# Em Bm C Am
D’, ya! Itu adalah kunci dari intro lagu Ungu yang berjudul Laguku, langsung
terbesit di ingatan ketika Irvan menyanyikannya untukku, persis sama yang ada
di mimpiku dulu. Irvan, andaikan ini terjadi lebih cepat, mungkin aku bisa
menikmati beberapa detik menjadi milikmu.
Mungkinkah kau tahu
Rasa cinta yang kini membara
Yang masih tersimpan
Dalam lubuk jiwa. . . .